Beranda > PENDIDIKAN > GURU YANG MENCINTAI, SEBUAH REFLEKSI HARI GURU

GURU YANG MENCINTAI, SEBUAH REFLEKSI HARI GURU

ImageHost.orgTahun 1945, Negara Jepang hancur dibom atom oleh sekutu. Rakyat Jepang banyak yang mati bergelimpangan, sisanya sekarat karena terkena radiasi bom atom. Pembantu kaisar dan menteripun kemudian melaporkan jumlah korban. Menanggapi laporan anak buahnya, Kaisar Jepang Hirohito berkata, “ berapa guru yang hidup “. Pembantu kaisar dan menteripun terkejut, seraya bertanya : “ mengapa paduka menanyakan jumlah guru yang hidup?”. Hirohito berkata “ selama masih banyak guru yang hidup, aku yakin masih ada kesempatan bangsa kita untuk  bangkit dari kekalahan dan mengejar ketertinggalani”. Maka setelah perang selesai, guru di Jepang menjadi anak emas. Diberikan gaji yang sangat cukup, fasilitas yang memadai dan semua kesejahteraannya dipenuhi. Tugasnya hanya satu yaitu mendidik rakyat Jepang untuk bangkit kembali mencapai kejayaan. Seluruh potensi dan kemampuan yang ada semuanya dipergunakan untuk pendidikan menuju kejayaan bangsa Jepang. 25 tahun kemudian bangsa Jepang sudah berdiri sejajar dengan bangsa yang menghancurkannya. Bahkan 35 tahun kemudian mengalahkan pengebomnya di bidang ekonomi dan teknologi.

Kisah ini sering diceritakan, terakhir kali saya menderangarkannya saat Ustadz Husein Rifai Hamzah berceramah dalam peringatan Hardiknas beberapa tahun yang lalu. Sebuah kisah yang patut dijadikan teladan, bagaimana sebuah bangsa yang hancur karena kalah perang bisa bangkit kembali karena jerih payah guru, dan bagaimana kepedulian suatu pemerintah terhadap pendidikan yang kemudian mampu membawa rakyatnya untuk maju.

Kita tidak tahu cara kerja guru-guru Jepang sehabis kehancuran negeri mereka, tetapi saya yakin bahwa untuk mencapai seperti sekarang ini guru-guru Jepang telah membanting tulang, bersimbah peluh dan bertetesan darah dalam pengabdiannya. Dan mari kita bandingkan dengan kinerja kita, guru-guru di Indonesia. Dengan hasil yang saat ini dicapai sungguh jauh panggang daripada api. Bangsa ini kini tengah terpuruk, menandakan kinerja guru di Indonesia belum maksimal. Memang guru bukanlah faktor utama, tapi setidak-tidaknya perannya sangat penting dan menonjol.

Di negara tercinta ini, Guru adalah sebuah profesi (itu kalau dikatakan profesi ) pelarian, yaitu apabila seseorang sudah tidak bisa masuk ke fakultas favorit atau menemukan pekerjaan lain, maka ia memilih keguruan atau menjadi guru. Maka tidak sedikit teman-teman yang latar pendidikannya bukan keguruan yang kemudian menjadi guru tiban. Sebagai bukti, kini universitas dan perguruan tinggi membuka paket AKTA IV. Memang tidak ada larangan, tapi niatnya sudah tidak sama. Ujung-ujungnya mereka melaksanakan tugas tidak dengan cinta dan sepenuh hati. Tugas guru yang paling utama adalah mendidik, dan pendidikan adalah olah rasa dan hati. Hakekat pendidikan adalah perubahan. Dan sulit perubahan akan didapat dari orang-orang yang tidak sepenuh hati ingin berubah dan mengubah. Pendidikan berkutat di wilayah rasa, etika dan estetika maka diperlukan cinta. Cinta kepada tugasnya, kepada ilmu, kepada siswa, sekolah dan kepada sesamanya.

Okelah .. saya setuju kalau pemerintah belum mampu mensejahterakan guru. Tapi hendaknya itu jangan dijadikan alasan utama untuk tidak mencintai, tentunya sambil diperjuangkan agar guru mendapatkan kesejahteraan yang layak. Eksis tidaknya bangsa ini tergantung dari pendidikan, dan maju tidaknya pendidikan tergantung pula dari cara kerja guru. Guru hendaknya seperti tanah, diinjak, dibajak, dibor, menampung berbagai kotoran, tapi semua itu tidak pernah membuatnya berhenti menumbuhkan tunas-tunas tanaman baru. Dan ingat… tanah adalah komponen utama makhluk termulia di jagat ini yaitu : MANUSIA.

Untuk teman-teman guru tetaplah bersemangat dan berjuang, seperti kata pak Harfan (Kepala Sekolah; dalam Film Laskar Pelangi ) “ Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan untuk menerima banyak-banyaknya”.

Selamat Hari Guru, Majulah guru Indonesia !!

Kategori:PENDIDIKAN Tag:,
  1. 13/12/2008 pukul 14:33

    presiden pun tak akan ada.. bila tak ada guru…🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: