Beranda > PENDIDIKAN > ANTARA FILM LASKAR PELANGI, FOREST GUMP dan UJIAN NASIONAL

ANTARA FILM LASKAR PELANGI, FOREST GUMP dan UJIAN NASIONAL

Sekali lagi saya nonton film Laskar Pelangi. Kali ini saya nonton bersama siswa-siswa yang kemarin ikut lomba blog. Film Riri Reza ini benar-benar membuat saya terkesan. Belum pernah sebelumnya saya nonton sebuah film sampai 2 kali (LP mungkin bisa sampai 3 kali karena isteriku juga ngajak nonton). Hanya “Forest Gump” (dibintangi oleh Tom Hanks) yang bisa menandingi Laskar Pelangi dalam hatiku. Keduanya menyampaikan pesan bahwa kita harus selalu memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan kepada siapa saja, termasuk anak ideot seperti Forest Gump sekalipun. Hanya bedanya, di Laskar Pelangi Lintang yang jenius tidak mendapatkan kesempatan untuk menikmati pendidikan, sedangkan Forest Gump bisa meraih gelar sarjana dan karir di militer meskipun dengan bekal kemampuan berlari.

Pada saat-saat seperti ini sekolah sangat sibuk dan bahkan agak sedikit panik. Kenapa ? jawabnya adalah karena sebentar lagi semua sekolah di seluruh Indonesia akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Informasi terakhir yang sempat didengar, Ujian Nasional akan dimajukan jadwalnya yaitu pada bulan April. Konon alasan dimajukannya Ujian Nasional ini karena berdekatan dengan pelaksanaan Pemilu. Hal ini mengakibatkan sekolah harus merencanakan ulang persiapan siswa dalam menghadapi UN. Lebih-lebih lagi sekolah yang menyelenggarakan program Akselerasi seperti sekolah kami. Mata pelajaran kelas 9 yang semestinya harus ditempuh kurang lebih 10 bulan oleh anak-anak akselerasi, kini harus dilahap habis dalam waktu 6 bulan. Belum lagi persyaratan nilai untuk lulus yang mungkin saja akan naik. Alhasil, pihak sekolah dan guru-guru mata pelajaran kini lumayan stress..

Semua sekolah berkeinginan agar semua siswanya lulus. Tak jarang sekolah-sekolah melakukan berbagai macam cara agar bisa mencapai angka kelulusan 100%, termasuk berbuat curang. Saya pernah menjumpai sebuah sekolah favorit/unggulan, berupaya untuk mengatur tempat duduk siswa dengan cara mengotak-atik DNS/DNT. Dengan begitu dalam setiap kelas akan ada anak-anak pintar yang kemudian ditugasi sebagai joki untuk teman-temannya. Selanjutnya siswa yang lain diajari cara berkomunikasi dengan sang joki dengan menggunakan kode-kode tertentu. Agar tidak mencolok, jawaban-jawaban yang diberikan oleh sang joki hanya cukup untuk melewati batas nilai minimum, tidak semua soal. Tidak cukup itu, saat pertemuan pengawas dan panitia di sub rayon dibuat kesepakatan agar pengawas tidak terlalu ketat dalam mengawasi peserta. Biarkanlah siswa sedikit berkerja sama asal tidak mencolok dan tidak gaduh, begitulah kira-kira pesan yang disampaikan. Maka Ujian Nasional yang semestinya menjadi tolok ukur keberhasilan siswa, kini menjadi sarang tempat berbuat curang. Nah Kalau begini, maka apa yang kita harapkan dari pendidikan di negeri tercinta ini.

Saya pribadi setuju diselenggarakan Ujian Nasional. Tetapi mestinya peserta yang tidak lulus diberikan kesempatan untuk ikut ujian ulang bagi mata pelajaran yang nilainya kurang. Ujian ulang tersebut tidak hanya satu kali, tapi bisa sampai 2 kali. Biayanya ditanggung sendiri oleh peserta, soalnya dibuat oleh Rayon, dikoreksi juga oleh Rayon. Saya yakin semua rayon bisa melaksanakannya, apalagi saat ini komputer untuk mengoreksi LJK banyak dimiliki oleh sekolah-sekolah. Sehingga rayon-rayon itu tidak hanya sebagai tempat pendistribusian soal saja. Akan lebih membanggakan bagi seorang siswa kalau dia memiliki Ijazah yang dikeluarkan oleh sekolahnya daripada memperoleh ijazah yang hanya dianggap setara (karena ikut ujian paket A,B,C).

Pesan dari tulisan ini : Marilah kita berikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak negeri ini untuk menikmati pendidikan. Jangan sampai mereka berputus asa. Mari kita bangkitkan semangat untuk pantang menyerah, sembari disiapkan kesempatan untuk bisa diraihnya. Jangan sampai ada Lintang-Lintang lain yang berguguran (seperti dalam Film Laskar Pelangi) karena tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Ayo kita ciptakan kesempatan seluasnya agar anak seperti Forest Gump (seperti dalam film Forest Gump) sekalipun bisa menikmati haknya secara penuh sebagai manusia dan warga negara Republik Indonesia.

  1. ahmad hambali
    02/06/2009 pukul 08:18

    mendidik adalah
    1). memimpin anak,
    2). melakukan perlindungan terhadap potensi2 baik
    3).Menjaga dari kecenderungan untuk berbuat tidak baik
    4). memelihara
    5). Membimbing serta mengarahkan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik kepada arah pertumbun jasmani dan rohani yang sesuai dengan norma-norma agama dan norma2 lingkungannya.

  2. ahmad hambali
    02/06/2009 pukul 08:22

    mendidik adalah
    1. memimpin anak
    2. melindungi, membimbing, mengarahkan potensi2 yang dimiliki ke arah yang sesuai dengan norma-norma agama dan nilai-nilai lingkungannya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: