Beranda > PENDIDIKAN > FILM LASKAR PELANGI, GURU AGAMA dan PENDIDIKAN

FILM LASKAR PELANGI, GURU AGAMA dan PENDIDIKAN

ImageHost.org

Menangis….. itu yang terjadi saat saya melihat 10 menit pertama dari Laskar Pelangi, bersimbah air mata pula saat kubaca novelnya.

Ada perasaan menggores dalam dalam hatiku, saat melihat anak bersepeda demikian jauhnya hanya untuk bersekolah, menuntut ilmu Lintang…. namanya. Melihat gedung sekolah yang miring hampir roboh, dan kalau hujan dimasuki kambing untuk berteduh, oh membuat lagi-lagi air mata ini mengalir di pipi. Aku bukannya melankolis, atau cengeng, tapi aku pernah mengalaminya meski tidak sedahsyat itu. Terutama saat-saat mengajar di sekolah swasta di kampung, yang jauh dari kemajuan pendidikan. Aku yakin banyak teman-teman guru yang pernah mengalaminya atau masih mengalaminya, mengajar beberapa gelintir murid di sekolah yang tidak layak, bahkan membahayakan. Aku juga pernah merasakan minder saat sekolahku tak pernah berprestasi berpuluh-puluh tahun, merasakan tatapan sebelah mata dari orang-orang yang antipati terhadap sekolahku, murid-muridnya yang tampak kumal dan kurang beradab.

Menyimak pak Harfan berbicara, aku jadi teringat guru-guruku semasa kecil, bicara jelas dan kata-katanya mengena, cara bicara yang sangat sulit aku tiru saat ini. Juga sangat mengesankan ucapan bu Muslimah kepada Kucai, bahwa menjadi pemimpin itu harus sabar. Sebagai guru Agama aku ingin seperti pak Harfan yang dengan piawai bercerita tentang Nabi-Nabi yang tak pernah dilupakan oleh oleh anak-anak, sebagaimana Andrea Hirata masih menuturkannya di novel Laskar Pelangi. Menimbakan air agar anak-anak bisa belajar berwudhu, kemudian sholat berjamaah di surau dekat sekolah, adegan itu membuatku merenung kembali tentang bagaimana cara menanamkan pendidikan agama pada anak. Selama ini , kusadari kita cenderung memberi pelajaran agama berupa teori dan hafalan, dan jarang memberikan pelayanan dan teladan bagi anak-anak kita. Alangkah besar pahala seorang guru kalau dia tidak hanya mengajari siswa, tapi melayani dan memberikan suri tauladan bagi muridnya. Alangkah indahnya kalau guru melayani dan tidak minta dilayani, mencintai tanpa pamrih, memberi tanpa minta kembali, mengabdikan seluruh masa hidupnya untuk memanusiakan manusia. Sekali lagi aku berfikir dan berfikir…. Merenung dan merenung.

Di sebelah selatan sekolahku ada perbukitan kapur, suatu saat bukit itu longsor, banyak rumah-rumah yang rusak terkena longsoran batu, kami semua diajak kesana oleh guru-guru kami melihat bukit longsor tersebut, kami senang karena kami anggap itu rekreasi dan jalan-jalan. Sementara sekolah lain menganggapnya sebagai hal yang aneh, kenapa saat jam pelajaran kluyuran ke bukit. Peristiwa ini baru ku ingat, setelah melihat bu Muslimah mengajak murid-muridnya ke pantai melihat pelangi dengan mengendarai sepeda, dan dilihat orang sebagai sesuatu yang aneh. Banyak orang salah faham terhadap pendidikan, dikiranya pendidikan itu tempatnya di sekolah, di kelas dan dikampus. Padahal interaksi yang ada di tempat-tempat itu hanyalah interaksi otak bukan interaksi jiwa dan hati, dan banyak orang lupa bahwa pendidikan itu adalah interaksi hati dan jiwa. Dan itu bisa dilakukan dimana-mana. Itupula yang diucapkan oleh pak Harfan ketika bertemu dan pak Zulkarnain sembari membenahi kursi siswa yang patah.

Menurutku… Laskar Pelangi adalah film tentang pendidikan yang terbaik yang pernah dibuat di negeri ini. Untuk teman-teman guru ada baiknya kalau menontonnya, kemudian berintrospeksi dan memperbaharui niat kita dalam mendidik anak-anak. Tidak usah kita pusingkan apakah guru itu pekerjaan, profesi atau yang lain, yang harus diyakini menjadi guru adalah tugas dari Allah SWT, kalau ada imbalan materi kita anggap itu rizki kalau tidak sepadan dengan yang kita kerjakan maka sisanya adalah amal sholeh untuk bekal kita di akhirat kelak.

Bu Muslimah dulu tidak pernah menyangka pengabdiannya akan membuatnya terkenal seperti sekarang, apa yang dikerjakannya adalah buah dari keikhlasan, hasil dari kegigihan dan keistiqomahan serta ketulusan. Derajat amal yang paling tinggi adalah terletak kepada keikhlasannya, jadi rasanya kurang pantas, kalau guru berdemo hanya untuk mementingkan materi yang akan diterimanya tapi tidak pernah memperjuangkan pendidikan anak-anak negeri ini dimana banyak sekolah-sekolah yang rusak bahkan roboh. Ayo kita perjuangkan anak-anak didik kita… agar dia menjadi manusia di jamannya, yaitu suatu masa saat kita telah terbujur di dalam kubur.

  1. 16/10/2008 pukul 11:57

    memang benar Pak, Film Laskar pelangi mungkin Film pendidikan terbaik Indonesia dalam beberapa dekade ini

    saya diblok tidak mengatakan bahwa Film ini kurang bagus, tapi saya hanya membandingkan Film sama Novel (Karena saya membayangkannya akan dibuat persis dengan novelnya). Tapi ya bener kata anda bahwa gak mungkin semua settingnya bisa disamain

    salam kenal,

  2. elmuttaqie
    17/10/2008 pukul 14:36

    Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
    Saya guru TIK (jadi2an) pada MAN Kotabaru Kalimantan Selatan, skedar ingin menyapa rekan-rekan sesama guru madrasah sekaligus ingin belajar banyak dan menimba ilmu serta wawasan dari anda-anda semua.
    Berharap mudah2an suatu saat silaturahmi kita akan berkembang menjadi jaringan ilmu pengetahuan demi kejayaan madrasah dan ajaran Islam.
    Tulisan bapak tentang film laskar pelangi, guru agama dan pendidikan diatas saya kira sangat mengena sekali… alhamdulillah akhirnya ada juga film bagus yg berbicara tentang indahnya menuntut ilmu di tengah segenap keterbatasan. Saya juga berharap suatu saat ada filmmaker yg sudi membuat film tentang dunia madrasah terutama perjuangan hidup para gurunya, agar kita para guru madrasah semakin termotivasi dan para stake holder tdk lagi memejamkan mata melihat ironisnya kehidupan para guru madrasah.
    Akhirnya semoga tegur sapa dari seorang guru madrasah yang jauh di pedalaman kalimantan ini dapat kiranya disambut dengan akrab dan tangan terbuka.
    Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf jika ada kata-kata yg salah.

    Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    Zainal Muttaqien, S.Ag
    http://www.elmuttaqie.wordpress.com

  3. 18/10/2008 pukul 02:41

    Waalaikum Salam Wr.Wb.
    Terima kasih atas komentarnya, kehadiran anda mengingatkan saya tentang Kalimantan (pulau yang pernah kunjungi), insya Allah akan saya tulis sedikit pengalaman di sana

  4. 23/10/2008 pukul 10:33

    Pak Irul, salam kenal. Saya juga berulang kali meneteskan air mata ketika nonton film LP. Sudah baca buku The Phenomenon Laskar Pelangi? bisa melengkapi efek domino buku LP, salah satunya kisah percintaan sepasang penumpang KA Panataran SBY – ML.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: