Beranda > AGAMA ISLAM > MAKNA PUASA

MAKNA PUASA

Sudah 23 hari kita melaksanakan ibadah puasa. Lapar dan dahaga telah kita tahan, tapi mari kita bertafakur… sudahkah kita menghayati dan menyelami saudara-saudara kita yang miskin dan tidak mampu, yang sangat kesulitan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Kalau di hari ke-23 ini di dalam jiwa kita telah tumbuh rasa kepedulian kepada sesama, dan kita mau menyisihkan sebagian rizki untuk mereka maka kita telah berada pada rel menuju insan yang bertaqwa.

Di dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa puasa hanya Allah sendiri yang akan memberikan pahala. Itu membuktikan bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang utama. Mengapa demikian, karena dalam puasa terdapat ibadah sosial, dimana seseorang yang berpuasa dituntut untuk merasakan penderitaan orang lain secara langsung. Seseorang tidak akan bisa merasakan kelaparannya kaum fakir miskin kalau dia sendiri tidak pernah lapar.

Hal-hal yang berkaitan dengan ibadah puasa Ramadhan mesti berkaitan dengan sosial. Contohnya : orang yang tidak kuat puasa karena hal-hal yang dibenarkan secara syar’i dapat mengganti dengan membayar fidyah kepada fakir miskin, orang-orang yang dengan sengaja berhubungan badan dengan suami/isterinya di siang hari bulan Ramadhan dikenakan denda memberi makan 40 fakir miskin dan akhir dari puasa Ramadhan harus disempurnakan dengan zakat fitrah. Hal ini membuktikan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan untuk beramal sebanyak-banyaknya. Tapi yang menyedihkan kita semua adalah bahwa di akhir Ramadhan ini banyak kaum muslimin menghabiskan uangnya hanya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, lihat mal-mal… semuanya penuh dengan orang-orang yang shopping untuk membeli berbagai barang baru, sementara di lingkungannya banyak fakir miskin yang mengenaskan. Dan itu semua orang-orang Islam, kaya-kaya lagi. Alhasil puasa kita yah masih hanya tidak makan dan tidak minum, dan masih jauh dari tujuan pusa yaitu menjadi hamba yang bertaqwa.

Memang fakir miskin tidak akan pernah hilang, karena hal itu merupakan pasangan dari orang kaya ( Allah menciptakan semuanya berpasang-pasangan), tapi ayo kita perangi kemiskinan  bukan dengan menggusur dan mengusirnya, tapi dengan membantu mengentaskan mereka dari jurang kemiskinan. Sebagaimana perkataan Imam Ali Karromallahu Wajhah: “seandainya kemiskinan itu berwujud sekelompok pasukan, maka akan aku perangi dan aku binasakan semuanya, karena hampir-hampir kefakiran mendekati kepada kekufuran “.

Semoga Allah selalu membimbing kita untuk selalu mencintai dan peduli kepada kaum fakir miskin.

Amien…. ya.. mujibassailin

  1. Firman
    27/09/2008 pukul 03:56

    Setuju bro.. soalnya kemiskinan adalah sumber dari kemunduran, meskipun kemiskinan tidak mungkin dihilangkan tapi mesti ditanggulangi ( bukan di tanggulangin…. Disana sih lumpur lapindo), yaitu dengan ibadah sosial so.. mestinya habis puasa orang miskin harusnya makin berkurang bukan makin bertambah.

  2. Artura
    27/09/2008 pukul 04:01

    Agama Islam adalah agama yang lebih mengedepankan ajaran sosialis, tapi sayangnya pemeluknya sebagian besar kapitalis yaitu penumpuk harta, dan bukankah Alqur’an mencela orang-orang yang menumpuk harta dan yang berlomba-lomba banyak-banyakan harta. Nah bagi muslim yang puasa tapi nggak mau bantu fakir miskin go to hell ….

  3. Na2ng
    27/09/2008 pukul 04:04

    Udah shodaqoh lom pren … kalo blom senjata makan tuan lho

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: